Marah karena Sayang

He is my father, my leader, my teacher, my role model, my motivator, mine. He taught me literally everything. He is the simplest man I’ve ever known, and has the purest heart. He works everyday for the sake of other people, even for this city or even bigger, this nation.

FullSizeRender 10.jpg
Dies Natalis UGM, 2016

I always remember his words when I upset him back then, he sat me down and talked after I argued him, “…ndak ada orang tua marah kok mau nyilakakke anaknya, dek. Kami ini marah hanya karena sayang, karena kami tau itu tidak betul, kami ingin meluruskan agar kamu ndak cilaka nantinya. Kan susah to papi sama mami kalau anak kesayangannya sedih. Tugas kami sebagai orang tua ya cuma mengingatkan, menjaga, momong kamu…

Even when he is angry, he’s still calm down and press his ego and talk to me nicely, and letting me know how much he loves me. And after that day I know that no matter how angry we are, as long as there’s love, we won’t hurt that particular person intentionally. The anger that comes up is only because we love them and don’t want anything bad happen to them.

Semarah-marahnya orang tua, masih akan tetap “memayungi” anaknya ketika hujan, “menyuapi” ketika anaknya sakit, “mengobati/mencari pertolongan” ketika anaknya kesakitan/butuh bantuan. Mereka ngga akan melupakan anaknya, meskipun batin mereka terluka karena perilaku anaknya. Mereka ngga akan berhenti menyayangi hanya karena sakitnya hati mendengar ucapan anaknya. Sayangi orang tua kita, berbakti setulus hati selagi bisa. Anak 10 belum tentu mau ngurusin orang tuanya, sedangkan orang tuanya ngurusin 10 anaknya dengan suka rela.

Sebenarnya “marah karena sayang” ini ngga cuma hubungan antara orang tua dan anak aja, tapi semua hubungan sosial, entah sahabat, pacar, tunangan, suami-istri, adik-kakak, dsb (ngga untuk mantan tapi ya)..

Sampaikan maksud kita dengan baik, biarkan lawan bicara kita mengerti bahwa kita bermaksud baik, dan untuk kebaikan yang bersangkutan pula. Yuk redam amarah kita, emosi kita, sifat egois kita terhadap orang yang kita sayang. Jangan sampai amarah kita menimbulkan luka yang ngga seharusnya ada, dan jangan sampai karena keegoisan kita, jadi ngga kelihatan “kasih sayang” kita terhadap seseorang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s