Pastikan Derap Langkahmu Lebih Keras dari Bisikan Hatimu

Mereka adalah manusia paling ajaib yang pernah ada. Aku tetap bertahan sampai bisa di titik ini juga karena mereka. Seperti yang sudah kalian ketahui (or not), menjadi mahasiswa kedokteran/menjadi dokter bukan mimpiku. Meskipun dulu waktu SD nulis di buku tahunan “cita-cita: dokter spesialis anak”, tapi aku masih percaya bahwa itu adalah hasil karya doktrin orang tua, karena all I saw was only that profession. Aku ngga pernah tau dunia selain profesi dokter, dan dokter anak.

Setelah masuk SMP banyak guruku yang melihat potensi lain di diriku dan aku diarahkan kesana. Aku pun memilih jalanku sendiri. Tapi gagal ketika masuk SMA saat penjurusan IPA atau IPS. Gagal yang bukan karena aku ngga mampu masuk IPS, bukan karena aku ngga diterima oleh teman-teman IPS, tapi karena restu orang tua yang ngga sampai hati untuk masuk IPS. Karena masih tidur di atas kasur orang tua, karena masih makan dari hasil keringat orang tua, dan masih ndusel-ndusel ketiak orang tua kalau lagi manja, ya sudahlah..

Akhirnya terdampar di FK UGM. Setiap pagi, 10-15 menit sebelum ke kampus selalu terbuang untuk meyakinkan diri bahwa ini adalah jalan hidupku, dan aku harus mendudukkan pantatku di kursi kelas, untuk ngga telat absen finger print dan untuk ngga izin dari kelas untuk ke toilet di Ambarukmo Plaza.

Allaah Maha Baik, dengan mengirimkan bantuan-Nya kepada hamba yang ngga tau diri ini, He sent them, dr. Sondang Hazewinkel Suringa Siagian and dr. Cresti Chandra Pradelta to me. Kelompok S1 tahun pertama, they helped me a lot.

Sondang spesialis semua mata kuliah, tempat aku tanyain semua materi dan selalu sabar untuk menuangkan ilmu ke otak tanpa isi ini. Dan selalu bilang, “Nah kan, bisa kan, Tin? Kamu tu bisa, Tin, aslinya. Cuma kamu sering males dan kaya kurang seneng aja. Padahal kamu nangkepnya cepet lho, Tin.” every-damn-time. Sondang juga spesialis kuliner dan voucher diskonan dan tempat-tempat hits di Yogyakarta dan sekitarnya. Bahkan aku yang orang Yogya banyak ngga taunya ketimbang Sondang.

Chandra spesialis kejiwaanku, yang selalu sabar mendengarkan jiwaku yang pemberontak meraung-raung minta dibebaskan, selalu siap kapanpun aku telfon untuk sekadar mendengarkan aku mencibir kenyataan dan kehidupan, dan selalu memotivasiku untuk terus berkarya, bukan untuk orang tua melainkan untuk diri sendiri dan kebahagiaan orang tua adalah bonusnya. Chandra yang selalu kesal setiap kali aku bilang ngga bisa, tapi aku lulus-lulus aja, “Tuh kan, Tin! Kamu tu selalu bilang ngga bisa, selalu bilang ngga suka, tapi buktinya kamu selalu lulus. Mbok udah diseriusin dan ngga usah ngeluh!” tipikal ibu-ibu galak yang naik motor sign ke kanan padahal beloknya ke kiri.

Aku bisa koas gelombang satu bersama mereka juga karena Chandra, dan ngga taunya aku satu kelompok sama Sondang. Allaah benar-benar memberi apa yang hamba-Nya butuhkan. Sondang selalu membantuku di kehidupan koas, “Tin, ngga tau kenapa aku lebih seneng lihat kamu waktu koas ketimbang S1 dulu. Kamu kaya lebih semangat belajar aja, mungkin karena udah ketemu pasien ya. Tapi seneng deh, kamu kelihatan aja semangatnya.”

Akhirnya, perjalanan panjang S1 sampai Koas selesai dengan Pengambilan Sumpah Dokter pada 25 April 2017 lalu. Dengan pencapaian besar dr. Sondang yang menempati posisi #1 CBT UKMPP Nasional. “Eh kalian ngga mau ngepost foto bareng aku? Hahahaha”, celetuk Sondang saat kami menyantap es krim, selang beberapa waktu setelah pengumuman kelulusan. Selamat untuk kalian berdua dan terima kasih karena terus merangkulku untuk berjalan bersama.

Aku ngga mungkin berada di sini kalau bukan karena izin Allaah, kalau bukan karena doa ibuku setiap waktu, kalau bukan karena keprihatinan ayahku, kalau bukan karena saudara dan sahabat-sahabatku. Ini bukan pencapaianku, ini jawaban doa dari orang-orang yang menyayangiku, dan aku bersyukur akan hal itu. Aku bersyukur diarahkan (red: dipaksa) oleh ayah dan ibuku untuk masuk ke dunia kedokteran, dan aku bersyukur ada Sondang dan Chandra yang nggodeli aku untuk terus di dalam dunia kedokteran. Sekarang, ketika aku sudah masuk terlalu dalam dan hatiku masih ingin keluar, aku hanya akan memikirkan cara untuk bisa keluar dari dunia kedokteran meskipun aku tetap di dalamnya. Bismillaahirrahmanirrahiim.

Mungkin kamu berfikir bahwa jalan yang kamu tempuh sekarang ini bukan jalanmu, dan hatimu masih terus membisikkan jalan lain di seberang sana. Tapi kamu ngga akan berdiri di jalan ini kalau bukan karena Tuhan yang menghendaki dan kamu mengamini. Dan mungkin kamu juga meyakini bahwa lingkaran yang kamu miliki sekarang bukanlah bentuk yang kamu ingini, kamu seharusnya berada di segi empat atau trapesium lain di ruang sana. Tapi ketika lingkaranmu sekarang membawamu ke bentuk dirimu yang lebih baik dan menambahkan gelar di depan namamu, apalagi yang kamu minta? Dan ketika semua itu mengarahkan pada satu kesimpulan instan bahwa kamu harus menghentikan apa yang kamu lakukan sekarang dan lebih mendengarkan hatimu berbisik, ada hal yang perlu kamu ingat dalam perjalananmu, adalah

jangan pernah menghentikan langkah besarmu hanya untuk mendengarkan bisikan kecil dari hatimu.. Dan pastikan kamu memiliki sahabat seperti mereka bedua yang mendukungmu dan melangkah bersamamu :)

FullSizeRender 13.jpg

I love you both, so much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s