Siapa aku Meminta Sederet Kalimatmu?

Aku tahu tulisan ini seharusnya tidak dipublikasikan. I just need to get this off my chest.

Aku sudah terbiasa hidup dengan puluhan atau bahkan ribuan cemoohan, you’ve no idea. Tidak sedikit orang yang tidak menyukaiku, keberadaanku. I only brought up so many dramas and pain, afterall. Aku sudah pernah melewati masa hidup ketika orasi OSIS, diteriaki seluruh siswa, “…ndeso ndeso.. ndeso.. ndesoo…”, dan hanya kubalas dengan berakting seperti dirigen. “Titin kan kepilih jadi ketua OSIS soalnya yang lain ngga ada yang mau jadi ketua OSIS, sakjane sing luwih apik ki akeh, tur do ra gelem wae…”. Dan hanya kubalas dengan senyuman dan timpalan candaan lainnya.

Aku sudah pernah hidup di sosial media yang penghuninya tidak ramah padaku. Setiap harinya hanya menyindir, mengejek, dan bahkan sampai mengataiku dan memastikan aku membacanya, “…najis, kampungan banget anak kelas 2 SMA bukan level aku”, dan aku hanya diam.

Aku sudah terbiasa hidup di lingkungan yang tidak percaya pada kemampuanku, “Titin kan asline goblok, aslinya nggak pinter, dia masuk di kedokteran UGM kan karena bapaknya di UGM.” Aku pun  pernah mendengar rentetan kalimat itu menggetarkan gendang telingaku dan menusuk sukmaku. “Dari SMA berapa? Kayanya kok nggak pernah ada ya SMA itu masuk kedokteran. Bapak atau Ibu kamu dokter ya?” terucap dari salah seorang dokter di RS jejaring.

Dan ayah-ibuku bukanlah orang kecil yang suka mengurusi hal-hal kecil, yang akan berdampak besar kalau diurusi. They remained quite. Tidak ada pembelaan sekalipun.

Sejak kecil, aku juga tidak pernah mendengar orang tuaku membicarakanku seperti orang tua lainnya, yang senang membicarakan kalau anaknya sekarang sudah bisa ini, sedang pergi kesitu, akan mendaftar ini, kemarin baru saja mendapat itu, bla bla bla. Itu hal yang sangat mengesankan buatku pribadi. They will never say a thing about me, the bad or even good things that happened in my life. Mereka hanya diam. Aku terbiasa mengafirmasi positif diriku bahwa mereka sangat menyayangiku dan terus mendoakan aku. Sejujurnya, hal kecil itu–selalu diam, apapun yang aku lakukan–membuatku ingin membuat orang tuaku mengatakan sesuatu yang baik tentangku, untukku.

Aku mendapat juara kelas, mendapat juara pencak silat tingkat DIY, menjadi ketua OSIS, menjadi ketua TONTI, menjadi ketua panitia ini-itu, masuk kedokteran dan sekarang dapat gelar dokter, it’s like none of these made my parents want to tell the world. Shame on me karena melakukan sesuatu hanya untuk mendengar mereka memujiku (atau membelaku jika aku mendapat cemoohan).

Hal kecil itu, hal yang bahkan tidak penting dan yang selalu diabaikan orang tuaku, membuatku bersahabat dengan malam. Menikmati sunyinya dan memeluk anginnya. Aku pun tersadar bahwa memang tidak ada dari diriku yang patut untuk dibanggakan dan pantas untuk diceritakan. Baru dapat gelar dokter saja sudah bangga kamu, Tin. You’re nothing compared to them, Tin, yang sudah S2 di Belanda, yang melanjutkan karir pencak silatnya sampai dapat medali di tingkat internasional, yang penelitiannya juara di tingkat internasional, etc.

Aku tahu mereka memiliki gaya sendiri dalam mengungkapkan kesedihan maupun kebanggaan. They don’t show their feeling that much, mungkin. Ya sudahlah.

Congratulations! I’m so proud of you! Good job! Keep up the good work! Well done!

Siapa aku meminta sederet kalimat itu dari mereka?

Shame on me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s