Satu Detik Waktu Itu…

H-1 sebelum pengambilan sumpah dokter, kami dikumpulkan oleh pihak akademik untuk mengikuti FGD tentang kehidupan selama koas hingga UKMPPD. Saat registrasi, dibagikan hasil (nilai) UKMPPD sepaket dengan rinciannya.

Sambil antri, aku curi-curi pandang ke beberapa hasil ujian yang ditumpuk off guardedSkimming saja dan sudah tau nilai beberapa teman sejawat, “wow, pada pinter-pinter ya”, gumamku sambil melangkah maju. “Ini hasil asli ya, jangan hilang”, kata Mbak Dora sambil menyerahkan dua lembar keramat itu dengan posisi terbuka. Ku lihat nilaiku dengan buru-buru karena takut malu, “What?!”, mataku terbelalak ketika melihat hasilnya.

Batas minimal kelulusan UKMPPD CBT adalah 66, nilai tertingginya diraih Sondang 92,5 sebagai Top10 Nasional. Ketika aku lihat hasilku 66,61. God, are you serious? 

Setelah acara sumpah dokter (sehari setelah pembagian hasil), aku mengurung diri di rumah. Terpuruk dan tidak tau harus berbangga atau mencemooh diri sendiri.

Kesannya Allaah cuma kasihan sama Titin yang struggling that much untuk bisa membahagiakan orang tuanya. Kesannya Allaah memberi jawaban atas segala kebimbanganku selama menjalani hari-hari di kedokteran, “I don’t belong here.” Dan bahwa perjuanganku yang pagi hingga malam hanya untuk menatap layar gadget dan berusaha memasukkan beratus-ratus slides materi ke otak, masih belum seberapa. Dan ternyata jatah keberuntunganku besar juga ya. Mungkin kalau sudah nggak eling aku sudah beli tali tambang sepulang dari FGD.

Tapi, di satu sisi aku bersyukur bahwa Allaah masih mengampuni segala dosaku yang selalu menggerutu akan keberuntunganku, akan nikmat dan kasih sayang-Nya untukku. Allaah masih sudi membiarkan aku, dengan usahaku yang tidak sekeras teman-teman lainnya, tetap bisa merayakan bahagianya dipanggil “Bu Dokter”. Dan aku mulai mencari hikmahnya, bahwa Allaah punya rencana besar untukku, yang membawaku pada pemikiran untuk terus melanjutkan langkahku dan membuktikan bahwa di ujung sana, Allaah sudah menyiapkan hal besar untukku, hal yang baik dan akan membawa kebaikan untuk sesama. Dan aku bersyukur karena memiliki Papi dan Mami yang karena keprihatinan dan doa beliau berdua aku bisa tetap ikut batch 1 angkatan 2011.

Beberapa hari setelah aku mempublikasi tulisan iniini, dan ini, aku harus membuka lagi lembar hasil UKMPPD untuk keperluan internship. Aku beranikan diriku untuk mengintip lagi nilai ujianku. “Innallaaha…! Hahahahahahahaha”, aku tertawa terbahak-bahak melihat nilaiku yang ternyata di atas 80 dan yang aku lihat saat FGD itu adalah nilai rata-rata nasional! Dan setelah dipikir-pikir, nilai 66,61 itu hasil yang aneh menurut cara penghitungan nilai UKMPPD hahaha. Stupidity level: maximum. 

Satu detik momen itu mengembalikan semangat hidupku. Satu detik waktu itu membesarkan kembali hatiku. Satu detik itu juga aku sadar bahwa aku telah membuang lebih dari seminggu umurku hanya untuk merenungi nasib. Lebih dari satu minggu, yang seharusnya bisa aku manfaatkan untuk membuat momen baru malah habis di atas kasur dan terus menceramahi diri sendiri.

Terlalu tergesa-gesa menyimpulkan dan seakan mendapat legitimasi dari segala keraguan yang pernah ada. Sudah suudzon sama kemampuan diri sendiri dan terus berkecil hati, membuat diri jadi meyakini apa yang dilihat atau didengar meskipun hanya sekali dan belum terbukti. Semoga kekonyolan yang baru saja aku ceritakan bisa dipetik pelajarannya dan tidak untuk diulang.

Tolong di-underline, bold, italic dan distabilo:

Jangan terlalu cepat berkesimpulan!

Satu hal yang pasti, semua ini karena doa Papi dan Mami. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s