Apatisme-ku

Pekan lalu aku diberi pertanyaan singkat yang sarat akan makna. “Gimana kok anak muda zaman sekarang terkesan tidak peduli terhadap isu terkini, Mbak?”, Prof. dr. Yati Soenarto, Sp.A(K)., Ph.D. yang dulu, sebelum aku menjadi murid beliau, akrab aku panggil “eyang”, bertanya sambil tersenyum kepadaku.

“Menurut saya, hal tersebut dikarenakan kami (generasi muda) merasa tidak diberi cukup kepercayaan untuk bisa bersuara, untuk berpendapat di forum besar/resmi yang berisi generasi senior. Kami seperti ‘anak kemarin sore’ yang kurang berpengalaman. Pun bisa bersuara juga tidak memberi perubahan apa-apa pada Indonesia.”

Ku sambut pertanyaan itu dengan kalimat yang tidak aku pikirkan dulu susunannya. “Opo iyo to, Dik Taryo?”, tanya beliau ke ayahku. “Betul, Mbak. Anak-anak kita seperti kurang percaya diri dan memang keberaniannya untuk tampil, untuk ikut kontribusi pada negeri itu kecil. Dan mereka jadi seperti tidak peka terhadap isu-isu di lingkungan mereka. Nah itu yang seharusnya jadi sorotan, kita-kita yang sudah tua seharusnya wis ra ngurusi.”
_________________________

Sepulang dari pertemuan singkat dengan Prof. Yati, aku menilik kembali kata-kata yang keluar secara spontan dari mulut tak tahu aturan ini. Bisa-bisanya mengatasnamakan “kami” – generasi muda, padahal itu adalah jeritan batin pribadi. Aku yang merasa kurang percaya diri bersanding dengan pembesar-pembesar organisasi, dengan mereka yang telah banyak berkontribusi. Aku yang merasa tidak didengarkan — atau didengar pun tiada guna karena tiada bobotnya. Aku merasa generasi senior mendengarku sambilalu dan bahwa ini belum zamanku.

Aku yang tidak percaya diri tapi berani mengemas ke-aku-an ku dengan ‘generasi muda’.

Semoga yang aku sampaikan pekan lalu ada benarnya barang sedikit.. Bahwa kalian pun merasakan nyali yang sama denganku, berada di sudut pandang yang sama denganku. Aku pun menangisi keapatisanku terhadap negeriku. Lulus dan mendapat gelar dokter ternyata malah membuatku semakin jauh dari peduli. Aku dulu menggelorakan semangat Pancasila tapi sekarang bahkan tidak ikut bersuara. Bukan semata-mata sudah tidak peduli, kalau aku boleh membela diri, tapi karena aku peduli pun seperti tiada arti. Kepedulianku berakhir pada keapatisan karena terlalu lama diabaikan.

Apa ada yang lebih buruk dari “punya suara tapi ngga didengar”?

Menengahi apatisme diri dan keresahan generasi senior berjuang sendiri, tidakkah lebih baik kalau “Yang muda jangan ragu-ragu, yang tua jangan lagi menunggu“?

Maksudnya, generasi muda tidak perlu ragu untuk bersuara dan mengadakan aksi nyata. Terpenting sekarang nurani dan kepedulian. Speak and act now.. Sedang generasi senior jangan lagi hanya menunggu sambil menggerutu, “Gimana sih anak-anakku kok hanya bertopang dagu melihat sekitaran?”. Rangkul kami, dengarkan kami dan bimbing kami.

Bahu membahu generasi senior dan generasi muda mewujudkan sesuatu yang bermakna. Generasi muda punya suara dan tenaga, sedang generasi senior memiliki kearifan dan kebijaksanaan serta kepekaan untuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Bukankah itu kombinasi yang pas untuk “mengguncang dunia”? Tawaran solusi yang aku tuliskan pun tidak akan mudah implementasinya karena yang muda merasa benar dan yang senior sudah terlanjur kagol.

Yah, siapa kamu, Tin. Solusi hanya berhenti pada barisan kata diakhiri tanda titik dan hanya dipublikasi di laman pribadi. Pun menulis ini juga tidak melakukan apa-apa. *sigh*

**

Tapi aku percaya bahwa segala keapatisan generasi muda yang dirasani generasi senior sekarang ini hanya sebagian kecil di permukaan. Dan aku terus berdoa bahwa Generasi Muda lainnya masih banyak yang berteriak-teriak memperjuangkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, yang masih menginginkan kesatuan dan persatuan Indonesia. Generasi yang melangkah tanpa payung, yang berlari tanpa alas kaki, yang hatinya masih terpatri di Bumi Pertiwi.

Tulisan ini hanya wujud dari hatiku yang terpantik namun masih tak berkutik. Semoga tulisan ini dapat membuatku menginisiasi pergerakan diri dan dapat pula memantik hati pembacanya untuk melakukan hal yang sama (atau bahkan lebih). Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s