Null.

Anak kecil pasti senang sama hal-hal yang bisa dibilang sederhana. Nonton kapal-kapalan Sekaten yang muter-muter di ember saja sudah sumringah dan nangis minta dibelikan, apalagi nonton kapal beneran. Tapi herannya Titin kecil kok tidak ingin membeli setelah melihat kapal-kapalan itu hanya berputar-putar dan tidak bisa melakukan manuver lainnya. Ingin beli boneka atau sejenisnya pun seingatku tidak. (Ya.. boneka Barbie dulu pernah ingin koleksi semuanya, tapi setelah punya satu atau dua, lalu berfikir, “njuk ngopo?”)

Pernah ikut mengantri untuk naik bianglala di Sekaten. Panjang dan lama, melangkah pun sejengkal-sejengkal. Setelah bisa naik, dapat dua putaran di atas, Titin kecil bertanya, “udah? Gini doang?”. Mungkin prosesnya yang butuh pengorbanan dan lama itu yang asyik.

Melihat barang bagus lalu ingin memiliki. Tapi setelah dapat, euforianya tidak bertahan lama, lebih lamaan nabungnya. Rasanya ada yang tidak berbanding lurus, bagi seorang Titin saat masih kecil.

**

Sekarang apa yang dikejar di dunia?

Berjuang iya, tapi tidak perlu ngoyo. Hidup mau apa cari apa? Gontok-gontokan, cari musuh, ngotot kesana-kemari cuma untuk memenangkan ego pribadi. Besok mati juga hanya nama yang ditinggali. Toh, semua orang pasti punya standar ganda dalam menghadapi permasalahan hidup. Hari ini bilang A, esok hari bilang B. Bukan mencla-mencle, mungkin, sekadar menyesuaikan dengan situasi yang ada. They just want to survive, anyways. Dan pada akhirnya semua orang hanya akan mengurusi dirinya sendiri.

Hidup itu mau bagaimana?

Setiap orang mengaku menggenggam kebenaran, dan tidak ada manusia di dunia yang mau disalahkan. Jadi, untuk apa diperdebatkan?

“The truth was a mirror in the hands of God. It fell, and broke into pieces. Everybody took a piece of it, and they looked at it and thought they had the truth.”

― Jalaluddin Rumi

Tidak ada apa-apa di dunia, tidak ada lagi rasanya. Sudah tidak ada lagi rasa kecewa atau keharusan untuk menang. Berjalan saja semestinya tapi tetap mantap. Mungkin tulisan ini terbaca sangat loyo. Justru sebaliknya, aku lebih mantap dalam melangkah sekarang, karena tidak lagi mengejar ‘ketiadaan’. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s