Bacaan ini Bukan untuk Anak-anak.

Selamat pagi :)

Ingin sedikit memberi hiburan (dan semoga pelajaran) pada awal Bulan Ramadhan ini dengan bernostalgia tentang cerita saat masih SMP. Betapa ndugal dan anarkisnya Titin waktu itu.

Dari SD aku sudah dilabeli guru-guru sebagai pembuat onar, suka berantem, dan suka menghasut teman-teman untuk menuju ke jalan yang sesat. Begitu pula dengan teman-teman seangkatanku yang menganggap Titin itu tidak pernah jauh dari kata masalah. Pagi-pagi, baru baris akan masuk kelas pun sudah adu jotos dengan siswa-siswa yang suka iseng mengangkat rok para siswi dan menertawakan apa yang mereka lihat di balik rok itu. Masuk SMP, Titin yang pernah mendapat juara pencak silat semakin nggleling, tidak takut siapapun. Termasuk sama murid yang badannya lebih besar ketimbang dirinya.

Suatu pagi yang cerah di Hari Jumat, aku ingat betul hari itu karena kami menggunakan pakaian Hizbul Wathan (HW), pramuka-nya Muhammadiyah, aku masuk kelas disambut oleh cemoohan siswa-siswa yang suka memanggil sebayanya dengan nama ayah mereka, dengan maksud mengejek. “Weeee Taryo lagi teko.. Piye e Taryo ki?” Aku menatap lurus ke mata Aji, yang pada saat itu menginisiasi celotehan tidak berbobot itu dan juga bersuara paling keras dibanding siswa lainnya.

“Satu buat kamu.” Kataku.

“Weee ngopo e Taryo i? Njuk ngopo nek siji? Hahahaha.”

Aku diam, dan pelajaran pagi itu dimulai. Jam kedua atau ketiga adalah mata pelajaran musik, yang berarti kami harus berpindah ke ruang musik di gedung yang berbeda. Saat menyeberangi Jalan Wirobrajan, mereka kembali memantik emosiku, “Taryo iso nyebrang ora e.. Woooo Taryo!”

“Dua buat kamu.” kataku.

Njuk ngopooo? Hahahaha. Koe lagi latian ngetung po, Gus? Wooo anak e Taryo!”

Aku diam, dan pelajaran musik dimulai. Saat itu kalau tidak salah kami belajar menggunakan suling dan pianika. Lagi-lagi, mereka (Aji terutama), mengusik ketenangan di Jumat pagi yang cerah. “Taryo iso nyuling poooo? Wis bali wae kono nek ra iso..”

“Tiga buat kamu.” mataku terkunci padanya.

Wis telu, njuk ngopoooo? Hahahaha Taryo!”

Aku diam, dan pelajaran selesai. Kami pun harus bergegas kembali ke gedung lama untuk pelajaran selanjutnya. Karena ruang musik adalah studio, jadi kami harus melepas sepatu saat masuk. Pada saat akan kembali, aku memakai kembali sepatu dengan berjongkok di depan rak sepatu, di sebelah pintu. “Taryo i ngebak-ngebaki dalan ngerti ora! Ngalih kono, wooo Taryo.. hoy! Taryo ki ra krungu po? Ngalih heh!” kata Aji tepat di belakangku. Aku yang saat itu berjongkok hanya melihat kaki Aji berdiri beberapa sentimeter di belakangku. Hari itu adalah hari “keberuntungan” Aji, karena seragam HW untuk siswi didesain menggunakan celana.

Saat Aji masih menyuarakan cemoohannya pada ayahku, aku berdiri, memutar badanku, bertumpu pada kaki kiriku dan mengeluarkan tendangan sabit yang aku arahkan ke kepalanya.

Seketika darah deras mengalir dari kepala Aji yang tertunduk. Suasana menjadi tegang karena teman-teman yang menyaksikan terlalu terkejut untuk berteriak atau berekspresi. Belum sempat Aji berlari ke kamar mandi, Pak Hari guru BK datang dan langsung membentakku tanpa tahu duduk perkaranya, “Kamu itu perempuan!”

**

Cerita di atas diakhiri dengan Aji yang menyalahkan aku dengan tawa getir, “Gus, saiki untuku ompong mergo koe lho!”, “halah, mengko kan tukul meneh.” jawabku singkat. Malangnya, itu adalah gigi permanen. Untungnya, yang lepas bukan gigi incisivus/gigi seri. Yaaaa minimal ompongnya tidak kentara lah. ;)

**

Titin kecil tidak peduli apakah dia perempuan atau bukan, yang dia tau dia harus membela kaum lemah yang tak bersalah. Titin kecil tidak mau orang-orang yang disayanginya dihina, “Kalau kamu punya masalah sama aku, datangi aku, ejek aku. Tapi kalau kamu ngga suka sama aku tapi malah membawa keluargaku, ini yang akan terjadi. Semoga ini jadi pelajaran untuk kita semua.” Kataku setelah kejadian sempalnya gigi Aji. Setelah itu tidak ada lagi yang mengejek nama ayah di kelasku, dan tidak ada yang mau berteman denganku *hiks*

Ngga ding.. Pelajarannya adalah jangan mau diperlakukan lebih rendah dari orang lain, terlebih kalau orang tersebut tidak tahu apa yang dia lakukan/katakan. Tapi, jangan menggunakan tindakan anarkis sampai merugikan kesehatan orang juga. Saat ini Titin sudah kenal dengan diplomasi-komunikasi, meskipun masih tetap menyimpan sisa-sisa ilmu bela diri, siapa tahu masih ada gigi-gigi lain yang pantas untuk di-sempal-kan. :p

*disclaimer: bukan bermaksud sombong atau sejenisnya, semoga tulisan ini mampu menghibur.

Bersama dengan tulisan ini, aku juga ingin memohon maaf lahir dan batin kepada seluruh teman, sahabat, dan sedulur yang pernah merasa aku rugikan atau tersakiti oleh polah dan tutur kataku. Selamat menjalankan ibada di Bulan Ramadhan tahun ini. Bismillaah, semoga semua diberi kesehatan dan kekuatan aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s