Don’t Let Anyone Define Your True Colors. Karena Harga Colors Menjelang Lebaran Naik.

“Cik cik periuk bilanga sumping dari Jawe, datang nek kecibook bawa kepiting dua ekook…”.

I sang confidently.

“Sudah.. sudah.. Yak, Agustina ya.. Kamu itu suaranya bagus, tapi kamu fals. Jadi ngga usah ikut paduan suara saya ya.” belum rampung aku menyanyikan lagu daerah Kalimantan Barat itu, guru musik zaman SD-ku memotong and he kicked me out and called the next student for that weird audition he made. Kejadian yang ngga ada tujuh menit sejak aku mulai tarik nafas sampai dia memintaku keluar dari ruang kelas dan kursiku digantikan oleh siswa lain. Sejak saat itu, Hari Selasa kelas lima, I decided not to sing anything.

Untuk ukuran guru SD di Yogyakarta, he’s an asshole. I mean, look.. guru SD adalah orang tua pengganti bagi siswa/i, pembentukan karakter terpenting itu sejak kecil, dan masa-masa SD adalah saat yang kritis bagiku pribadi. Ditambah dia bekerja di Kota Pelajar, yang seharusnya dia paham betul bahwa membangun kepercayaan diri dan memotivasi untuk berkarya (untuk diri sendiri, karena levelnya masih SD) adalah bahasan pokok, terlebih dia adalah guru seni. Guru yang seharusnya memunculkan warna terbaik dari siswanya dan menjadikan itu karya yang membanggakan dia, siswa, dan orang tua. Dan guru ngga seharusnya “membuang” siswa yang menurutnya ngga potensial untuk dibimbing. Lantas apa fungsinya guru kalau hanya “membuang” muridnya? Dan.. sehancur itukah nadaku yang sampai ngga bisa diperbaiki?

Ya aku ngga seharusnya mutung hanya gara-gara kalimat guru baru itu. Tapi nasi sudah menjadi feses, sampai sekarang aku ngga percaya diri untuk bernyanyi. Pernah diajak Mas Yudha untuk ikut grup bandnya, tapi ujungnya cuma mempermalukan jagad hiburan saja :”( Ribuan kali Mas Yudha mengingatkan aku untuk lebih percaya diri, tapi mau gimana lagi, kata-kata guru SD itu sudah tertancap di hati. Lagipula Mas Yudha juga sering menertawakan ke-fals-an-ku. :”( #jahatkamuMas #drama

Alhamdulillaah, al-Fatihah semua, karena aku bisa tergabung dalam grup paduan suara sumpah dokter FK UGM 2011 tanpa merusak nada sedikitpun (because I lip synced, sssssh!).

Pelajaran yang baik untuk kita semua, jangan biarkan orang menilai kita ngga bisa melakukan sesuatu, sedang hanya kita yang mampu mengukur kemampuan kita. Jangan telan mentah-mentah perkataan orang, yang bahkan orang itu ngga punya kemampuan untuk mematangkan perkataannya sendiri. #ngomongopo

Dah. Salam super.

#NGGRUNDELPAGI2 #BELUMTIDUR #EFEKKOPI #SORRY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s