Tentang Terima Kasih

“Terima kasih” adalah kata yang sering terlupa dan mulai berubah wujudnya, tidak lagi berupa kata-kata tapi bunyi klakson atau sebuah anggukan. Entah kenapa hal mudah tersebut berubah bentuk pembahasaan. Bukan, bukan jelek, tapi saya hanya menyayangkan. Bahkan belakangan ini bunyi klakson sudah terganti dengan suara pedal gas diinjak, dan anggukan pun tidak lagi melebihi dua senti. Meskipun saya selalu mencari sisi positifnya dengan, “mungkin dari batin mereka berterima kasih dengan kesungguhan melebihi anggukan.” Tapi apakah cukup sampai di situ? Bagaimana jika Anda meminjami saya uang satu juta rupiah lalu saya hanya berterima kasih dalam hati?

Terima kasih adalah cara paling mudah menghargai orang lain, tapi dalam prakteknya sekarang, entah karena apa memudar. Bukan soal apa yang diberi, seberapa besar pengorbanan yang dilakukan, tapi sekadar menghargai atas kerelaannya memberi, melayani, mendahulukan kita. Zaman edan ini, membuka mulut untuk membicarakan keburukan orang lebih terasa ringan ketimbang mengapresiasi kebaikan orang lain, sepertinya.

Bagaimana masa depan suatu bangsa yang tidak lagi menganggap penting kata “terima kasih” maupun segala perubahan wujudnya? Bagaimana karakter manusia nantinya ketika terima kasih hanya berhenti pada batin dan tidak pernah lolos dari plica vocalis?

One thought on “Tentang Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s