krisis diri.

*setiap kali boncengan sama Mas Yudha* (note: sampai ke bawah ceritanya selalu saat boncengan sama Mas Yudha).
Mas: dek, pegangan ya, jangan sampai jatuh..
Me: *pegangan di motor atau cuma pegang paha diri sendiri*
Mas: *kept silent*

*suatu ketika*
Mas: adek boncengan sama mas tu kaya lagi boncenan sama abang gojek ya..
Me: lha kok bisa?
Mas: pegangannya sama motornya
Me: *laughed*

*suatu ketika yang lain*
Mas: dek..
Me: hm?
Mas: tu lho dilihat, kalau boncengan tu kaya gitu.. *menunjuk ke pengemudi lainnya yang mbaknya melingkarkan tangannya di pinggang masnya*
Me: *laughed*

*seperti biasa, tanganku di pahaku sendiri*
Mas: *acap kali melihat ke arah tangan kananku*
Me: *I laughed and placed my right hand to his right waist*
Mas: *berganti melihat ke arah tangan kiriku*
Me: *menyentuh pinggang kiri Mas Yudha dengan telunjuk*
Mas: adek tu kenapa to …
Me: *laughed so hard*
__________________________________

Aku yakin tidak ada satu pasangan pun di dunia ini yang tidak stres saat mempersiapkan hari bahagia mereka. Rasanya pun tidak adil kalau aku bilang yang lebih stres itu pihak perempuannya, karena yang laki-laki pun pasti juga stres, meskipun aku hanya bisa merasakan dari pihak perempuan. Setiap manusia memiliki kesulitan masing-masing, pasti. Dan yang bisa dilakukan pasangan itu adalah toleransi dan meredam emosi.

I’m blessed that I have him, yang sampai detik ini selalu super duper sabar luar biasa menghadapi segala hal dariku. Yang masih sempat bertanya, “adek akan sayang terus sama mas kan?” di tengah-tengah keruwetan pikiran. Yang menenangkan aku dengan “iya sayang”-nya. Yang menuruti ke-perfeksionis-anku, yang meskipun pada akhirnya aku yang menuruti saran-masukan darinya. Yang mengorbankan banyak hal hanya untuk seorang aku.

Kesabaran adalah kunci menghadapi setan berwujud manusia yang menuangkan isi hatinya di blog ini.

Sebut aku tidak tahu terima kasih. Sebut aku tidak tahu cara bersyukur. Aku yang masih banyak meminta dan sering merengek kekanakan di tengah-tengah perdebatan tentang masa depan. Aku yang menuntut dia melakukan banyak hal sedangkan aku hanya duduk diam berpangku tangan. Aku yang menyeret dia ke lingkaran yang membuat jiwa bebasnya tidak lagi bisa tercermin dari senyumnya, malah semakin terkungkung di batas-batas yang bahkan agama pun tidak membatasi. Aku yang menambahkan beban di pundaknya, tapi aku masih menangis ketika dia tidak bisa memenuhi hal kecil yang terangkai indah dalam imajinasiku.

Sebut aku tidak tahu diri. Sebut aku dengan semua sebutan sumpah serapah itu. I deserve it. Aku yang masih meraba-raba seperti apa sebenarnya wujudku, sudah berani mencoba-coba mengajukan ini dan itu kepada seorang Yudha.

Lucunya, otakku mengetahui itu semua, tapi tetap tidak bisa memerintahkan seluruh aku untuk bisa menerima dan menjadi seperti manusia pada umumnya, yang menjalani kodrat sebagai wanita, yang berlaku sesuai dengan tahun mengenyam pendidikan dan usia. Lebih lucu lagi ketika sudah mengetahui mana yang benar tapi tetap berusaha supaya keakuanku diakui dan menolak kebenaran itu sendiri.

I need help.

Aku tahu ini hanya fase hampir puncak dari segala lelah yang tertimbun selama hampir setahun mempersiapkan segala sesuatunya, ditambah dengan kesibukan lain yang mendesak dan mengacak-acak urutan prioritas. Mungkin aku termasuk dalam kriteria “bridezilla”. Entah, apapun itu aku tahu bahwa aku salah, yang aku lakukan salah. Kembali lagi aku mengingat bahwa sejak awal, hanya kesabaranlah modal utama, selain cinta.

Dan ternyata bersyukur itu seharusnya tidak diakhiri dengan sekadar tanda baca tetapi dilanjutkan hingga aksi nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s