Buku.

Aku memilih untuk membaca buku tebal yang bukan berasal dari kota asalku.

Terlalu sedih dibuatnya. Belum ada setengah jalan sudah lelah, tapi sudah terlanjur memutuskan untuk membacanya. Tidak lagi penasaran bagaimana akhir ceritanya, tapi terus kubaca hanya karena merasa “harus” menyelesaikannya. Selain jalan ceritanya yang terlalu berat dan menyiksa hati, mungkin perasaan keharusan itu yang membuat perjalanan membaca ini terasa semakin berat.

Kisah yang penuh dengan air mata dan siksa. Mungkin karena aku hanya berfokus pada dua hal itu, buku ini menjadi kurang daya tariknya tepat sebelum memasuki awal jalan ceritanya. Sebenarnya banyak tentangnya yang membuat hati bahagia dan terasa penuh. Tapi, meskipun sudah berusaha berfokus pada dua hal tsb, buku ini masih terlalu dini utk dikonklusi dan terlalu berat utk dipahami, dan kisahnya masih saja menyayat hati.

Apakah aku kurang arif dalam membacanya? Ataukah memang karena buku ini terlalu berat sesuai dg kemasannya? Apakah aku salah membeli buku? Ataukah salah memilih waktu untuk membeli buku? Atau ini belum saatnya menyimpulkan?

Mungkin aku harus menyelesaikan membacanya, meski berat sudah terasa sekarang.

Bahwa membaca buku ternyata dibutuhkan kesabaran untuk bisa mencapai pada lembaran terakhirnya. Dan membacanya hingga tanda baca terakhir pada halaman terbelakang adalah ibarat pertanggungjawaban karena telah memutuskan memilih untuk membacanya ketimbang buku yang lain.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s