Panik

Selama ini aku hanya meraba-raba apa yang ada di dunia. Menentukan cita-cita pun hanya berdasar penerawangan sekelebat, tanpa ada pertimbangan ini-itu. Bergerak pun hanya karena “kebetulan” berada di situ, dan akhirnya tergerak secara sendirinya. Tapi dalam pergerakan itu isinya hanya meraba-raba, hingga akhirnya menemukan secercah cahaya di depan sana dan mulai menerka-nerka, “inikah jalannya?”. Seusai disumpah dan mendapat gelar dokter, rasanya sulit untuk terus menerapkan cara berjalan seperti yang sudah-sudah. Bahkan sampai sekarang pun aku masih merasa bahwa hidupku di dunia ini hanya karena keberuntungan, bahkan bisa sampai di titik ini pun karena keberuntungan. Pemikiran semacam itu memunculkan ketakutan sendiri di hati, “apa kali ini aku akan seberuntung dahulu? Apa keberuntungan masih akan berada di pihakku?”

Maju, hanya tahu teknik menerka dan meraba. Mundur, terasa semuanya sia-sia.

Apa masih bisa menjalani semua dengan cara lama? Kurasa dunia tidak sebercanda itu, sekarang. Ya kan? Kerja keras pun sekarang sudah tersubstitusi dengan kerja cerdas. Ditambah lagi dengan visi ke depan dokter seluruh dunia bisa praktik di Indonesia. Apa masih bisa mengandalkan keburuntungan? Apa masih bisa meraba-raba?

Kemudian pekerjaan sebagai ibu rumah tangga mulai terasa menarik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s