Sanggar Seni Kinanti Sekar

Ada energi tersendiri dalam menari, entah apa itu, tapi aku bisa merasakannya di hati. Menari adalah hobi sejak masih TK, yang sempat mandeg saat SMP karena sekolah di Muhammadiyah, dan SMA karena sibuk urusan di luar sekolah (ehem). Kemudian melanjutkan menari saat kuliah karena ditarik oleh Chandra untuk ikut acara AMSA. Dan terus melanjutkan tahun berikutnya sampai koas.

Cerita sedikit tentang pengalaman saat koas tapi tetap nekat untuk menari. Waktu itu lagi rotasi di Klaten stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD). Latihan cuma 3 kali dari total 10 kali pertemuan, dan jatah 2 kali itu karena sebelumnya stase selo (lupa deh stase apa, kulit kalau ngga salah), dan setelah masuk penyakit dalam udah sama sekali ngga bisa latihan, mungkin 1x saat sebelum diberangkatkan ke Klaten. Hari H pentas, masih masuk sampai jam 3an sore, langsung mlethas ke Yogyakarta. Izin ngga ikut follow up malam sama dr. Dany yang waktu itu jadi residen pembimbingku dan Uti, dan menitipkan pasienku ke Uti (huhu baik banget ibu peri!).  Ternyata perjalanan kurang lancar, macet banget daerah bandara, akhirnya terlambat datang gladi bersih dan sampai di kampus langsung dimarahin semua orang karena ngga pernah datang latihan, ngga mantepin pola lantai, ngga ikut gladi bersih, dan belum dandan. Lihat panggungnya literally 2 menit sebelum musik dimainkan. What. Tapi hamdallah pentas berakhir dengan bahagia. Setelah pentas langsung kembali ke Klaten untuk menjadi koas lagi. Rahasia di balik kesuksesan pentas dengan 3x latihan? Nonton YouTube!

**

Sejak kecil selalu ikut tari kreasi baru karena berpendapat kalau menarikan tarian klasik aku bisa ketiduran (saking halusnya gerakan dan gendingnya). Tapi waktu diajakin Chandra ikut Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS), rasanya pengen nyobain hal baru, yang lebih menantang, dan membutuhkan kesabaran dan teknik yang benar, dan biar sekelas sama Chandra (psst! major reason). And so be it. Aku dan Chandra daftar kelas klasik dan masuk kelas pertama: Nawung Sekar.

Berhubung kelasnya dibuka menjelang pernikahanku, jadi aku cuma bisa ikut 2 pertemuan awal aja (kayanya), dan bulan berikutnya sama sekali ngga bisa masuk, sampai beberapa minggu setelah resmi jadi istri orang (ganteng, yes). Waktu masuk kelas setelah beberapa minggu menyublim, surprisingly, Mbak Octa (guru sanggar) masih ingat namaku (meskipun nama panggungku yang diingat, Tamara). Wow. Dan waktu masuk itu gerakannya udah selesai diajarkan semua, tinggal mengulang untuk memantapkan gerakan. Aku sama Chandra yang barusan dateng cuma kesandung-sandung kaki sendiri gara-gara ngga ngerti gerakannya hahaha.

Kesabaran dan ketelatenan Mbak Octa selaku guru Nawung Sekar adalah yang membuat aku dan Chandra berhasil menyelesaikan tarian sampai ikut ujian. Meskipun ada kelas tambahan ngga formal sama Mbak Sekar (Bu Kepala Sekolah) di malam gladi bersih sebelum ujian kenaikan kelas. Dan meskipun gerakanku ngga sebaik teman lainnya, dan masih sering salah di sana-sini, but I am happy! Seseneng itu!

whatsapp-image-2017-11-26-at-18-05-34.jpeg
Bersama Mbak Octa :”)

Mengerjakan hobi, dikelilingi sahabat dari hati, dan bertemu sedulur sanggar yang sefrekuensi adalah yang membuat semangat latihan meskipun seharian bolos riset (HAHA). Awalnya menyangsikan bakal terus lanjut menari setelah masuk internsip (6 Desember 2017), tapi setelah ikut ujian kemarin dan melihat perjuangan Chandra yang internsip di Muntilan sampai datang latihan ke Yogyakarta dan langsung kembali kesana lagi….. rasanya ngga ada alasan untuk mandeg. Bismillaah semoga istiqomah.

Anyway, sering banget dikatain sama orang, “Nawung Sekar kan basic banget, buat anak SD. Soalnya tariannya gampang banget dan paling dasar”. Tapi aku yang menjalani rasanya sulit banget. Sempet banget kalimat-kalimat negatif itu sampai kemakan hati, sampai menganalisis diri sendiri, “opo yo aku ki goblog banget nganti tarian dasar wae ra iso-iso? Apa karena seringnya aliran kreasi baru yang rancak? Apa aku kurang sabar dan menghayati?” And it haunted me like crazy.

Tapi kemudian aku tersadar bahwa orang-orang yang pada ngatain, “ih itu kan basic banget kok baru belajar”, adalah nyinyir belaka. Ya terus kenapa kalau basic dan aku baru belajar? We need to learn from basic kan? Yang udah jadi expert pun memulai latihan dari basic. Lagian yang nyinyir ketika disuruh nari juga mungkin ngga jauh beda sama aku. Helooo!? At least I do something, ngga cuma komentar.

Dah, intinya saring komentar di luar sana, don’t listen to what nyinyir people say about you or what you’re doing as long as you’re doing good. Nyinyir adalah iri yang terselubung. Just do YOU, ok! ;)

Terima kasih sedulur sanggar. Sampai jumpa di kelas berikutnya! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s