Good Bye, 2017!

WhatsApp Image 2017-12-31 at 22.10.17.jpeg

Inget banget, terakhir umroh tahun 2014 masih bimbang akan 2 hal, satu tentang akademik: mau lulus kapan, dan yang kedua tentang asmara: mau sama yang mana (najis hahaha). Dan terselip beberapa rencana dalam segala doa yang terujar kala itu, surprisingly, it all came true! Allaahu Akbar!

My 2017 recap:
1. Berjuang untuk lulus dari Fakultas Kedokteran
Tiada hari tanpa buka buku dan buka slides materi. Sampai mau tidur aja rasanya berdosa banget. Setiap hari mengafirmasi diri, “this is for your own good.” sampai di titik terlelah dan kemudian pasrah.

2. LULUS UKMPPD 2017
Ini…. kaya mimpi rasanya. Dibangunkan oleh dentingan notifikasi dari ponsel yang ternyata grup LINE PD2011 udah ramai membicarakan tentang pengumuman kelulusan. Langsung lari ke bawah untuk membaca hasil pengumuman sama Papi dan Mami, nangis bersama. It really was like a dream for me, since I didn’t think this field fits me. Terima kasih Allaah sudah mempercayai hamba Mu di bidang yang mempertaruhkan nurani ini.

3. Sumpah Dokter Angkatan 2011 Gelombang 1 FK UGM
Banyak yang ngga nyangka seorang titin bisa masuk kedokteran, UGM pula. Banyak juga yang menyangsikan seorang titin bisa lulus dari FK UGM, apalagi bisa ikut gelombang satu di angkatannya. Dan seorang titin itu juga termasuk yang meragukan kalau seorang titin itu bisa. Hingga tiba hari pembuktiannya ketika mengucap sumpah dokter dan diberi map merah berisi ijazah dokter yang diserahkan langsung oleh Dekan FK UGM, Prof. Ova Emilia, Mmed. Ed., Sp.OG(k), Ph.D. Dan yang menjadi highlight di momen itu adalah aku bergabung dalam Paduan Suara 2011 dan menyumbangkan sedikit dari yang aku bisa, membaca puisi. Yang kerennya lagi, puisi itu dibuat oleh alumni SMAN 4 Yogyakarta (dan sepulang acara banyak yang menanyakan puisi dan penulisnya). Sakses!

4. Menikah
Ngga pernah terbayangkan dalam benak seorang rebellion seperti aku untuk menikah muda (for me, 25 is a newborn). Bahkan (sedikit buka-bukaan ya), sempat ada beberapa orang menyatakan ingin menikahiku sekitar tahun 2014-2016 tapi ku jawab, “aku masih pingin sekolah dulu”, atau, “menikah memang ada dalam list prioritasku, tapi bukan di posisi teratas saat ini.” Tapi kemudian akhir tahun 2016 aku menerima lamaran Mas Yudha dan akhirnya menikah di akhir tahun 2017. I know, kampret, right? Tapi ya mohon maaf lahir dan batin, that was how I feel. Ngga ada yang tau apa yang akan terjadi setahun lagi, bahkan sedetik lagi. I didn’t mean to hurt anybody, I just didn’t know apa yang akan terjadi setahun lagi. List prioritas itu pun bisa berubah, mengikuti arus situasi dan kondisi (hm).

I’m happy that I’m married now, regardless the adaptation issues we’re facing right now, but I’m happy. Menikah memang mengubah segalanya, meskipun jiwa pemberontak ini masih sulit diatur, but at least I’m on the right track and heading there. Mungkin karena masih di tahap adaptasi ini jadi terkesan kurang luwes jika berada di lingkaran-lingkaran tertentu, but I’m working on it.

“Menikah adalah bentuk kepasrahan tertinggi di Bumi Pertiwi.” – Istaryanti, 2017

Alhamdulillaah. Allaah Maha Besar! Bismillaah, semoga 2018 kita selalu mendapat perlindunganNya dan mendapat kebahagiaan yang melebihi kesedihan masa lampau. aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s