Kata ‘Maaf’

“Maaf” adalah satu kata yang terlihat simpel tapi begitu susah diucapkan dalam kehidupan sehari-hari, secara lisan. Betapa dalamnya makna kata maaf ini hingga pengucapannya disubstitusi dengan bahasa asing (paling sering Bahasa Inggris), atau ejaannya diubah (baca: maap, muup, maf eaps). Bagi beberapa orang, mungkin satu kata ini terasa berat untuk bisa melewati pita suara. Tapi, bagi orang yang mengerti betul efek positif dari satu kata pendek ini, dia akan berusaha mengalahkan besarnya ego yang ia miliki untuk bisa dengan tulus meloloskan kata ini dari bibirnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa cara pengucapan kata ‘maaf’ ini ada berbagai wujud, mulai dari berjanji tidak mengulangi kesalahan, hingga benar-benar tidak pernah mengulanginya. Bahkan ada orang yang mengatakan kata maaf itu tidak berarti jika kesalahannya masih diulangi. Dan saya pun pernah menuliskannya di salah satu tulisan di blog ini, bahwa kata maaf itu banyak bentuknya, sehingga tidak perlu dinanti bunyinya. Tapi, dengan tulisan ini saya ingin meralat tulisan saya, bahwa ternyata manusia (mungkin tidak semua, tapi kebanyakan–entah disadari atau tidak), masih butuh mendengar kata maaf itu terujar secara lisan.

Kata maaf itu seperti obat merah. Meski murah harganya, bertambah perih pada olesan pertama, tidak dapat memutar waktu supaya tidak terjadi luka, dan tidak bisa menyembuhkan dengan sekali oles dengan kassa, tapi ampuh mengobati luka pada akhirnya. Kata maaf sendiri seperti mudah penulisannya, dapat membuka luka lama pada saat pertama mendengarnya, tidak dapat mengembalikan wujud hati seperti semula, dan tidak bisa menyembuhkan luka begitu saja, tapi ampuh meredam segala amarah dan perih di dada.

Seolah kata maaf itu sendiri mengandung zat yang dapat mengobati sedikit luka di dada, meskipun masih meninggalkan bekasnya. Bedanya, kalau obat merah untuk luka berdarah, kalau kata maaf itu obat marah untuk luka tak berdarah.

Sama seperti tulisan saya yang ini,  kata maaf juga perlu untuk didengungkan. Seperti diajarkan oleh senior saya di SMAN 4 Yogyakarta (secara turun-temurun) yang rutin kami dengungkan., SATOTEMA, “Salam, Tolong-menolong, Terima kasih, Maaf”.

Akan menjadi bangsa seperti apa kita kelak jika penghuni negara ini sudah melupakan cara menggetarkan gendang telinga dengan “SATOTEMA”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s