Beruntung.

Aku hanya manusia beruntung yang tidak pandai bersyukur. Bisa merasakan nikmat Tuhan yang sedemikian tak terhingga, masih saja mengeluhkan hal-hal sepele. Aku bisa menjadi dokter jelas bukan karena aku, tapi karena jawaban doa ibuku dan keprihatinan ayahku. Aku bisa berada di titik ini jelas bukan karena aku, tapi karena dukungan dari lingkaran-lingkaranku.

Tidak mudah, memang, menjalani apa yang bukan menjadi keinginan hati. Tapi, kalau memang ini sudah digariskan Tuhan, apa iya masih ingin mencari-cari alasan untuk mengubah haluan? Apa iya masih berusaha mengulangi dari nol? Aku hanya manusia yang tidak pandai bersyukur.

Seperempat abad kulalui, seharusnya sudah mulai bisa kupahami bahwa keberuntunganlah yang membawaku sampai di titik ini. Dan bisa jadi, keberuntungan itu yang dapat menggagalkan aku nanti, jika aku tidak mengikuti hasil keberuntunganku dengan kerja keras yang extra.

Menari di hujan badai tidaklah mudah, tapi badai pasti berlalu, dan mentari tak pernah telat bersinar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s