Mental Gembus

Ada anak kecil menangis setelah jatuh tersandung kakinya sendiri. Orang tuanya memukul lantai sembari memarahi lantainya, “nakal udah bikin adek sakit dan nangis”.

Believe it or not, budaya menyalahkan objek lain atas kesalahan dirinya sendiri dapat membentuk mental gembus. Kenapa? Karena tumbuh besar nanti, si anak akan terbiasa menyalahkan orang lain atau keadaannya ketimbang introspeksi terhadap kesalahan atau usahanya. Dan dia tidak akan pernah mau/bisa mengakui kesalahannya, even when it’s proven. And it runs through their veins, tentang merasa benar dan tidak berani minta maaf, and sometimes they play victims and spread negativity to their surroundings.

Sama halnya ketika nantinya di dunia kerja, anak-anak yang dibesarkan untuk memiliki mental gembus ini mungkin bisa survive di pekerjaannya, but they won’t be able to handle problems and tend to blame other people, and they have the ability to look at a situation in a negative way. Mereka cenderung akan menjadi orang yang mengumbar kesalahan orang lain dan menutupi kesalahannya by playing victims. Berusaha merekrut sebanyak-banyaknya orang by telling lies and wrong stories, supaya mereka terlihat benar dan tidak bisa dipersalahkan.

Mental gembus seperti inilah yang pada akhirnya membuat Indonesia tidak akan pernah bisa maju. They won’t cooperate with others, meskipun terlihat seperti bisa diajak kerjasama dan seolah-olah bisa dijadikan partner yang baik dalam pekerjaan. Atau, jika sudah ditodong dan diberikan bukti bahwa dia bersalah, selalu ada saja alasannya. Intinya, tidak mau mengakui kesalahannya, meskipun nanti di belakang hanya akan terus mencari pembelaan akan tindakan salahnya. Orang dengan kualitas seperti tempe gembus ini bisa dipastikan ngga akan bisa maju atau memajukan wilayahnya. Bisa hidup dan makan sehari tiga kali saja sudah cukup membahagiakan baginya, boro-boro ngurusin negara, di wilayah kerjanya aja mungkin dia hanya bisa menggerutu sambil mencari dukungan atas gerutu-annya.

Jadi, ibu-ibu muda, I know it’s hard to appologize, to say you’re sorry. But please teach your children to have the bravery to admit if they’re wrong and more importantly to appologize. Demi masa depan bangsa yang lebih baik. Mau sampai kapan Indonesia “ngingu” orang-orang dengan mental gembus?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s