Zaman Milenial

Entah aku dilahirkan di waktu yang salah atau aku yang tidak bisa beradaptasi, tapi hidup di zaman ini terasa lumayan menyiksa. Media bersosialisasi ada di berbagai platform yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi.

Somehow I miss the old days, when we have to wait and checked our cellphones regularly because we didn’t get the reply. Atau menyingkat kata supaya dapat mengirim pesan satu halaman saja supaya tidak terkena tambahan biaya. It felt so beautiful and peaceful when people think twice when they’re about to send messages towards other people. And how meaningful a message could be when we received one because it cost 150 rupiahs which was not cheap back then. Sekarang? Ngetik “jancuk” saja ngga dipikir, semacam refleks.

Kemudahan yang diberikan oleh beberapa platform pun seolah memfasilitasi suara hati seluruh manusia di bumi. Tadinya hanya berani nulis, “dear diary,” sekarang pasang status “lagi sensi”. Dulu kerukunan (seolah) terjaga karena suara hati yang kadang menyerupai setan hanya terpendam di dada, sekarang manusia berlomba-lomba jadi toa-nya setan. Saling sindir, saling buka aib, saling mengutarakan kebencian. Ngga jarang juga ada manusia lain terpancing sampai terbawa perasaan. Believe it or not, realizing it or not but the world nowadays is not a better place to live than before.

Seolah manusia sudah lelah hidup di zaman batu, merasa takjub dan kagum dengan kecanggihan teknologi. Fitur-fitur yang ditawarkan berbagai platform pun seolah memanjakan manusia untuk semakin malas bertatap muka atau mengemukakan pendapatnya secara terbuka. Di media sosial berani melemparkan sindiran untuk orang lain dan seolah dirinya yang paling benar. Tapi jika ditodong dan ditanya, hanya bisa tertawa getir dan berdalih bahwa suara hatinya tersebut untuk orang lain. Pusing kan? Ya itulah. Manipulasi media sosial di zaman milenial.

Aku nulis di blog begini saja bisa jadi ada yang merasa tersindir kemudian tersulut lalu update status. Nanti giliran ditodong, mengkerut dan berdalih statusnya bukan buat aku. Tapi di belakang, tulisanku discreenshot, ditunjuk-tunjukkan ke orang lain dan berpidato seolah-olah dialah kaum lemah tak bersalah.

Komunikasi efektif seakan susah tercipta. Seperti yang guruku selalu sampaikan, “bahasa lisan dan tulisan itu bisa berbeda makna, Tin. Tatap matanya dan biarkan hati yang berbicara. Jangan hanya diketik saja”. Tapi tidak semua orang di zaman milenial ini bisa diajak bertatap muka. Tidak semua orang senang menyuarakan isi hatinya melalui pita suara dan (sekarang) lebih senang dengan social media.

Yahhhhh sudahlah……. Aku yang sulit beradaptasi dengan zaman milenial, sepertinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s