Efek Capek

Berangkat jaga dengan doa, “yaa Allaah sepi-kan jaga IGD hamba, amankan jaga IGD hamba, lindungi hamba dari sikap lalai atau yang membahayakan diri hamba, sejawat, maupun pasien. Bantulah hamba…”. Selalu minta doa Mami-Papi supaya jaganya santai dan dimudahkan..

Tapi nyatanya tetep rame IGD-nya. Sampai beberapa hari lalu, buka puasa cuma mbatal dua teguk es teh aja, lalu lanjut ngerjain status/meriksa pasien baru/evaluasi pasien observasian. Bukan nggerundel, insya Allaah ikhlas. Tapi rasanya ngga penak sama mas/mbak perawat-bidan (dan bahkan dokter definitifnya), karena jaganya ngga pernah santai. Yang mana kalo jaga ngga santai itu capeknya bukan main. Pasang infus, suntik obat, jahit luka, resusitasi jantung-paru, penanganan kejang demam, rontgen, CT-scan, etc. And the things I mentioned on the above were done mostly by mas/mbak perawat-bidan………..  bisa dibayangkan sendiri capeknya gimana.

Berangkat jaga cuma bisa memikirkan, “kayanya enak kalo kerja di rumah, buka online shop dan balesin chat ‘jaket kulit keongnya ready kaka'”, tanpa harus mikir panjang kaya kalo chat konsulen buat konsul pasien. Bukan bermaksud menganggap enteng profesi lain, tapi kayanya enak aja gitu ngga dikomplain masalah nyawa keluarga orang dan masa depan anak (kalo pasiennya anak). Beda ngga menurut kalian kalo dimarahin customer karena barang yang dipesan di online shop belum sampe-sampe sama dimarahin keluarga pasien karena dikira kita melakukan prosedur resusitasi ngga sesuai SOP? Barang VS Nyawa orang. Meskipun aku tau, setiap pekerjaan pasti memiliki risiko dan beban masing-masing, but for me, tanggung jawab terhadap “nyawa” terasa lebih berat……. (meskipun hidup-mati itu di tangan Tuhan, tapi yang kena tuntut kan dokternya bukan Tuhannya).

Pulang jaga dengan kecepatan sedang, yang penting sampai rumah. Di jalan cuma bisa merenungi nasib jadi dokter sambil ngelihat penjual warung klontong di pinggir jalan atau angkringan atau petugas kasir Indo/Alfamart. “Seneng ya kayanya jadi mereka. Mungkin bisa pulang ke rumah tanpa rasa bersalah, tanpa pertanyaan apakah sudah melakukan pekerjaan sesuai SOP dan tidak mencelakakan orang lain, tanpa harus merasa bodoh dan harus terus buka buku/jurnal sepulang jaga, …”, etc. (ya mungkin TS dokter lain yang IQ di atas rata-rata bisa pulang dengan bahagia ya, tapi buat IQ pas-pasan modal keberuntungan kaya aku ya….. harap maqlum).

Selalu pulang jaga dengan perasaan bersalah sama mas/mbak perawat-bidan karena IGD selalu rame dan tindakan dan observasian dan masuk bangsal. Bahkan tiap salaman mau jaga (sama yang satu shift sama aku) mereka selalu, “wah jaga sama dokter titin” atau kalau tau jaga shift berikutnya sama aku, “yah, dok mbok ngga usah jaga aja dok.” (DENGAN SENANG HATI, I mean, siapa yang ngga lebih memilih untuk staying at home watching Keeping Up With The Kardashians dibandingkan jaga IGD?!).

Tapi sebenernya buat apa juga merasa bersalah, emang udah jatahnya pasien kena musibah. Tapi kok ya selalu “jatah musibah”-nya pas aku yang jaga. Seperti berusaha meyakinkan diri (berulang-ulang) kalo bukan salahku IGD rame, tapi kok ya mesti pas aku yang jaga ramenya, bahkan sampai dibandingkan dengan rekan internship lainnya, “kalo jaga sama dokter yang itu selalu tidur pulas jaga malemnya, kalo sama dokter titin mesti ngga tidur blas..” dan lain sejenisnya.

ps: itulah kenapa aku kalo diajakin main pas jadwal turun jaga atau libur jaga selalu keberatan karena setelah jaga malam aku selalu (SELALU) migrain.

Aku pernah bikin tulisan serupa tulisan ini, kalo selo bisa dibuka disini. It doesn’t make any sense, gimana ceritanya kalo aku yang jaga tiba-tiba berdatangan pasien, tapi kalo pas dokter lain yang jaga pasien dikit. Tapi yaudah, dijalanin aja. Ini sambatnya udah ada di IG-story, cuma aku pindah kesini because somehow I feel like I have more confidence and space and be myself when I write anything about me and my life here.

Ini bukan minta dikasihani atau cari perhatian atau apa. Cuma masih meraba-raba aja apa maksud Tuhan mengizinkan aku berada di bidang ini.

***

Aku sempat post ini di IG dan WA, ngga nyangka banyak yang ngasih support dan mendoakan aku dan meyakinkan aku bahwa this is the path that Allaah has written for me, and I felt so embarassed for being such a weak, ungrateful person for complaining about what I do. Here’s one of the replies that really hit the spot:

“Daun jatuh aja atas seizin Tuhan, masa kamu jadi dokter lalu Tuhan nggak tanggung jawab sih”.

***

Thanks for reading! ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s