Tentang Rejeki

Banyak (termasuk aku) yang mengartikan rejeki sebagai materi (uang/benda). Tapi ternyata kalau mau ditilik lebih dalam, ternyata maknanya luas. Rejeki itu ya kemudahan, kelancaran, keberuntungan, kebahagiaan hidup. Termasuk juga dapat merasakan kasih sayang. Jadi inget, dulu awal memutuskan menikah bermunculan pertanyaan orang tentang mau ngasih makan anak-anak pakai apa, dan aku selalu menjawab dengan percaya diri, “rejeki itu sudah diatur sama Allah, ASI pun termasuk rejeki si anak, jadi insya Allah ngga perlu terlalu banyak khawatir…”. Jawaban yang ternyata masih sangat superficial dan terkesan mengutamakan ego dengan merasa paling tahu dan paling benar.

Aku bisa ada di titik ini adalah rejekiku, yang dimintakan oleh orang tuaku kepada Allah. Segala kemudahan dan kelancaran yang aku dapatkan selama menempuh pendidikan kedokteran adalah rejeki yang tak ternilai secara materi. Ngga ada orang yang nyangka orang se-koplak, se-nggamauitujadidokter, se-ngaco, se-deadliners aku bisa memakai snelli dan dijuluki “dokter”. Aku pun ngga nyangka.

Tapi kembali lagi, ini rejeki, yang sudah diatur sama Gusti Allah. Rejeki juga aku bisa berada di lingkungan keluarga yang menyayangiku secara utuh, yang menjalin banyak silaturahmi, and shaping me into what I am today.

While I’m still debating about “rejeki”, about who am I to deserve this kind of life and all, Allah menegurku untuk selalu bersyukur. Apapun itu,

Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s