Apa ada manusia terlahir untuk tidak bahagia?

Pulang jaga hari ini rasanya terlalu capek. Bukan, bukan fisiknya, tapi hatinya. Ngga kok, ngga ada drama di RS. Tapi habis ngerujuk pasien dengan Congenital Rubella Syndrome yang masuk RS karena prolonged fever.

Sedihnya bukan karena diagnosis pasiennya, tapi karena background dari pasiennya. Dia dititipkan di panti asuhan sejak dia lahir. Dan selama sakit ini yang merawat adalah pengasuh dan perawat panti, yang mana beliau-beliau berhati mulia ini ngga tau seluk-beluk kelahiran si anak. Boro-boro, posisi bapak/ibunya si anak aja mereka ngga tau.

Gitulah. Hidup kadang ngga adil untuk beberapa orang. Sudah ngga merasakan hangatnya dekapan orang tua kandung, harus menderita sakit bawaan dari lahir (yang ngga bisa disembuhkan), ditambah sekarang sakit yang masih butuh pelacakan (dan biaya tinggi).

Selalu heran (dan hampir mengutuk) para orang tua yang “membuang” anak kandungnya sendiri. Entah ke panti asuhan, entah ke rumah sakit, entah di sungai, dsb. Bagiku semuanya sama aja, bejat. Kalau memang mikirnya ngga ada biaya perawatan lha terus (1) ngapain situ bikin anak? Dan (2) imannya gimana? Rejeki kan udah ada Yang Maha Mengatur.

Setelah berhasil merujuk pasien tadi rasa sedihnya masih keikut sampai sekarang menulis tentang si anak.

Semoga diringankan dari beban mu, Nak. Cukupkan yaa Allaah.. :”(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s