I’m Concern

Ada pengalaman menarik hari ini, dimana aku menghabiskan waktu lumayan lama… cukup lama untuk bisa mengamati, tapi belum cukup lama untuk bisa memahami dan mendalami. Dari hasil pengamatanku yang singkat itu, menimbulkan sebuah kepedihan yang mendalam, cukup dalam hingga membuat aku ingin berdiskusi dan menambah ilmu terkait hal tersebut..

Dari sempitnya lapang pandang dan pengetahuanku, dan sempitnya ruang serta waktu pengamatanku, aku memberanikan diri untuk menulis status instagram dan whatsapp saat itu juga. I wanted to know.. I wanted an answer.. I wanted a discussion..

Aku penasaran, siapa yang memberi izin para penjual obat di apotek untuk bisa merekomendasikan obat apa yang sebaiknya diminum oleh pasien? Dalam hal ini tentunya bukan kasus batuk-pilek biasa.. I overheard a conversation between the patient and the sales this morning..

(1) Pasien laki-laki, mengeluhkan kepalanya sakit sejak semalam. Ia mengatakan kolesterolnya tinggi dan sudah periksa menggunakan stik di rumah (sewaktu, dengan device mandiri), dan hasilnya 222 mg/dL. Ia datang ke apotek untuk membeli obat penurun kolesterol. Sang sales memberi saran untuk membeli produk A (sejenis statin), kemudian menyarankan untuk membeli multivitamin untuk memperlancar peredaran darah. And he bought it..

(2) Pasien perempuan, 22 tahun, mengeluhkan nyeri gigi dan gusi bengkak. Ia datang untuk membeli obat sakit gigi. “Diminumin anti nyeri saja kak nanti sembuh sendiri. Sekalian sama calciumnya kak supaya ngga sakit-sakitan giginya.. bisa untuk meninggikan badan sekalian lho, kakaknya masih 22 tahun kan? Masih bisa kak…” said the sales. And she bought it.

(3) Pasien ibu-ibu, ingin membeli allupurinol karena kakinya sedang nyeri dan biasa konsumsi allupurinol. “Memang harus rutin Bu minum allupurinol, nanti langsung diminum saja, langsung sembuh Bu sakitnya..” again, she told the patient.. And the patient trusted her.

Right after I updated my instagram story about the stories above, a patient came in..

(4) Ibu-ibu mau membeli obat penurun panas. Katanya anaknya demam sampai 40 derajat dan hari ini adalah hari ketiga demam. “Wah sudah harus minum antibiotik itu Bu..” she tried to sell her product. “Oh, nanti saja, saya mau periksa lab dulu”, thank God the patient was smart enough not to buy the antibiotics right away.

I really am curious and concern about this matter. I wonder is there any regulation for selling drugs? Haruskah kita sebagai tenaga kesehatan peduli terhadap hal kecil seperti ini? Atau aku yang terlalu “nritik” dan “selo”?

ps: I’m not complaining about how she monopolise the patients, I’m just feeling sad that so many people were fooled by them (regardless what their intensions are). It’s somebody’s life we’re talking about here.

No offense buat siapapun. Purely I’m just concern. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s