See “The Bigger Picture”

Kembali kita bicarakan soal kesehatan di Indonesia, kali ini tentang pengambilan keputusan terkait kesembuhan pasien (baik itu dirinya sendiri atau keluarganya). Decision making is never easy, especially when it comes to saving lifes, yes? Menentukan mau makan malam dimana mungkin susah, apalagi menentukan terkait nyawa.. Bukan main…..

Selama menjalani studi kedokteran, sering kali saya dan tenaga kesehatan lain mendapatkan pasien yang gawat atau butuh pertolongan segera atau perawatan intensif. Dan di saat-saat genting seperti itu, ada saja keluarga pasien yang memilih untuk “menghentikan” upaya penyelamatan yang dilakukan tenaga kesehatan, dengan alasan “kasihan” atau “tidak tega” atau hal lain yang tidak jarang membuat tenaga kesehatan (saya pun) sedih. Kita gunakan ilustrasi kasus untuk mempermudah penyampaian maksud tulisan ini.. Bismillaah semoga tidak ada yang salah paham.

(1) Pasien bayi usia 2 bulan, datang dibawa ibunya karena kejang saat di rumah. Kejang didahului dengan demam. Belum ada riwayat kejang sebelumnya. Setelah kejang, anak menjadi lemas dan mengantuk (mulai tidak sadar).

Pasien akan dipasang infus oleh perawat. Tapi sudah dicoba 3x tusukan, akses vena tidak bisa didapatkan. Si ibu meminta untuk menghentikan “penusukan” bayinya dan bersedia tanda tangan surat penolakan tindakan, meskipun sudah diberi penjelasan tujuan pemasangan akses infus serta bahayanya jika tidak dipasang. Alasan sang ibu adalah tidak tega jika anaknya ditusuk-tusuk jarum.

(2) Pasien laki-laki usia 70 tahun, datang dibawa keluarganya setelah ditemukan tidak sadar di kasur. Pasien riwayat keganasan dan sudah kemoterapi. Pasien lemas karena satu minggu tidak mau makan dan minum.

Dari kisah di atas, pasien tadi akan dipasang selang makanan dari hidung (Nasogastric Tube/NGT) oleh dokternya. Tapi saat dokter yang merawat sedang mempersiapkan alat dan membuka bungkus selang NGT, keluarga memilih untuk menandatangani surat penolakan tindakan dengan alasan tidak tega sang ayah/kakek/suami dipasang selang yang membuat beliau tidak nyaman dan mungkin kesakitan. 

(3) Pasien laki-laki usia 61 tahun, dirawat di ICCU karena serangan jantung dan sedang dalam pengawasan ketat hari pertama setelah serangan. Keluarga pasien dari seluruh penjuru negeri datang untuk memberi semangat ke pasien dan memaksa untuk bisa masuk dan bertatap muka dengan pasien di ICCU. Ketika diberi pengertian oleh dokter bahwa pasien sedang kritis, keluarga mengancam akan melaporkan ke manager rumah sakit karena dokter dianggap tidak profesional. Keluarga pasien tersebut jauh-jauh datang dari Jakarta untuk membesuk pasien dan sore itu akan segera kembali ke Jakarta.

Tiga kisah di atas adalah nyata. Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut terkait pengambilan keputusan medis?

Yup! Keluarga pasien kurang memperhatikan tujuan besar di balik suatu tindakan yang mungkin menyakitkan atau berbahaya, as I like to call it “the bigger picture or purpose”. Segala tindakan medis, terutama di UGD, merupakan upaya penyelamatan nyawa pasien. Dan tentunya segala tindakan itu memiliki risiko atau efek samping, tetapi pasti juga memiliki manfaat yaitu penyelamatan pasien.

Seperti ilustrasi (1) Bayi tersebut perlu dipasang infus (jalur vena) untuk memberikan cairan tambahan, memasukkan obat-obat anti kejang yang bersifat emergency (darurat), antibiotik (sebagai pembasmi bakteri, penyebab terbanyak kejang demam), dan mengambil darah untuk monitor infeksi. Jika tidak dilakukan? Cairan tidak dapat diberikan karena (ingat) bayi tadi sudah mengalami penurunan kesadaran, jadi untuk minum ASI pun dia tidak ada tenaga. Hal tersebut bisa mengakibatkan hilangnya nyawa bayi tadi.

(2) Pasien menjadi lemas karena tidak mau makan (anorexia), dan satu-satunya yang dibutuhkan pasien adalah asupan nutrisi. Nutrisi dari jalur infus tidak cukup dan bukan sebagai satu-satunya sumber energi untuk kebutuhan manusia. Manusia tetap membutuhkan asupan makanan yang dimasukkan ke lambung. Kalau tidak dipasang selang NGT, pasien akan tetap lemas dan bisa terjadi perdarahan lambung karena tidak ada makanan yang masuk.

(3) Pasien dengan serangan jantung butuh istirahat sebanyak-banyaknya. Tidak boleh stres/banyak pikiran karena dapat menyebabkan detak jantung semakin cepat dan memperparah serangan jantungnya. Euforia/berbahagia karena dibesuk saudara dari jauh pun dapat meningkatkan detak jantung, yang bisa berakibat fatal. Untuk itu pasien di ICCU harus dibatasi jam besuknya dan harus dimonitor 24 jam penuh oleh perawat yang terlatih.

Jika keluarga pasien memilih untuk “see the bigger picture/purpose” mereka akan memilih untuk menyerahkan pada ahlinya untuk keselamatan/kesembuhan pasien. Berikan kepercayaan pada tenaga kesehatan terlatih untuk melakukan upaya penyelamatan. Bukan berarti memasrahkan semuanya, tapi ketika dimintai persetujuan tindakan, akan lebih baik pahami betul tentang tujuan dilakukan tindakan tersebut. Timbang dengan baik untung-rugi dilakukan dan tidak dilakukannya tindakan itu. Jangan sampai kehilangan tujuan utama yaitu menyelamatkan nyawa pasien, hanya karena alasan tidak tega. Lebih tidak tega mana? Pasien meregang nyawa karena keputusan kita atau diberi tusukan satu-dua (yang nantinya dapat sembuh juga) tapi nyawanya dapat diupayakan untuk terselamatkan? Lebih tega mana? Do something to save them or do nothing because we don’t want to “hurt” them?

Saya berharap tulisan ini sedikit membuka mata kita tentang pembuatan keputusan medis, terutama di saat gawat darurat. Mungkin ada hal lain yang belum bisa saya lihat dari perspektif pasien/keluarga, yang mendasari keputusan mereka. Tapi saya sudah pernah berada di posisi dimana saya harus menentukan apakah tindakan medis dari dokter bisa dilakukan atau tidak kepada Ayah saya, so it’s a win-win, I think. Mungkin juga ada beberapa orang yang akan berfikir “ini dokter gila, ngga punya hati, tegaan” etc. But again, always see the bigger picture, see the purpose on every actions we (doctors) take.

ps: dengan adanya penolakan dari pasien/keluarga pasien terkait tindakan medis, bukan berarti dokter dan tenaga kesehatan lain berpangku tangan atau tidak merawat pasien ya. Kami tetap memberikan perawatan maksimal sesuai prosedur dan algoritma yang sudah ada. ;)

“Primum non nocere” or in english is “first, do no harm.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s