Budaya dan Agama

Aku ingat, kapan pertama kali punya pikiran ingin menikah dengan dandanan Paes Ageng dan acara adat Jawa yang lengkap, yaitu waktu kelas 5 SD. Sejauh ingatanku, saat itu aku diajak Papi ke acara Keraton (atau Pakualaman?). I amazed how rich Javanese cultures are, and how great and detailed each and every story behind every traditions, even their clothes and even the way of wearing a ring. Dan sejak itu aku bangga menjadi bagian dari Indonesia dan Jawa.

Melanjutkan sekolah ke SMP Muhammadiyah membuatku kenal tentang bid’ah dan syariat agama Islam. Tapi dibesarkan dan dididik di keluarga yang nasionalis, aku menimba ilmu keagamaan dengan batasan yang aku tentukan sendiri, tapi tetap berada di koridor-Nya.

Ketika akhirnya memutuskan untuk menikah, aku ingin melakoni upacara Adat Jawa lengkap dan dirias Paes Ageng (yang dulunya hanya boleh digunakan oleh anggota kerajaan). Ada satu ganjalan, aku berhijab sejak SD kelas 6 (yang aku sendiri kurang paham kenapa memilih berhijab padahal sekolah negeri). Paes Ageng dan upacara adatnya akan lebih apik jika menggunakan busana sesuai ketentuan kebudayaan, dan terlepas dari tuntunan keagamaan.

Dua hal yang tidak bisa dijadikan satu ini sempat menggoyahkan imanku, “Apa aku lepas kerudung aja ya, biar di foto bagus?” Tapi aku diberi nasihat oleh beberapa orang, “Untuk apa menjadi ratu sejagad semalam hanya untuk bermalam di neraka?”. Lagi pula aku sudah menutup auratku sejak masih belia, jadi aku memutuskan untuk tetap berhijab, bagaimanapun nanti jadinya. Selain itu niat utamaku adalah untuk berbudaya.

Terkait sesajen dan lain sebagainya, aku berprinsip hal-hal tersebut hanyalah bagian dari upacara adat, untuk Nguri-uri kabudayan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keimanan dan ketaqwaan itu hanya soal niat di hati.

Jadi itulah cerita di balik “Kenapa e Paes Ageng tapi ditutupin leher sama telinganya?” dan “Kamu muslim tapi kok pakai sesajen sih Tin?”

Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Lagipula bukan tempatnya manusia untuk menilai keimanan dan ketaqwaan manusia lain. Urusan Tuhan mereka, kecuali kamu menganggap dirimu Tuhan, ya itu urusan kamu. :)

One thought on “Budaya dan Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s