I can feel it too..

Setelah sering ke dapur dan menjajal mercaik bumbu sampai menghidangkan masakan, rasanya aku mulai paham apa yang dirasakan ibuku setiap kali memasak tapi masakannya seakan “tidak laku” karena belum habis. Rasanya sedih bukan main.

For your information, memasak itu ngga sesimpel “sreng-saji”, tapi mulai dari belanjanya, ngupas bawang-brambangnya, nyuci sayurnya, mbersihin duri dan dan tulang dan kotoran dari cumi, ikan, udang, ayam, dsb.. memastikan rasanya enak dan memantaskan tampilan untuk disantap. Memasak itu ngga secepat order via GoFood, ada proses setengah sampai satu jam untuk mengolah bahan menjadi makanan.

Dulu, sedihnya cuma karena sayang makanannya sisa. Sekarang valuenya bertambah jadi sayang Mami udah masakin susah-susah.

Dan aku juga bisa ngerti sekarang kenapa Mami selalu masakin ituuuuu itu aja kalau sekali aku bilang, “Bund.. enak deh ininya”. Sampai kudu dibilangin kalau aku udah bosen, baru stop masakin menu itu wkwk. Ngerti banget sekarang senengnya kaya sampai ke ubun-ubun dan menghilangkan lelah berproses masak, kalau masakan habis dan yang makan super seneng sama cita rasanya.

Selain soal masak, aku juga jadi paham tentang kebersihan dan kerapihan rumah yang selalu dijaga sama ibuku. She’s a little too much, I guess, but it’s okay because without her this house wouldn’t be called home. Selaluuuu aku bercandain, “Bunda tu kalau bantal sofa miring dikit aja kudu langsung dibenerin, apalagi ada barang yang ngga sesuai tempatnya”. Dan sekarang ketika aku bersih-bersih rumah sendiri, kerasa banget sebelnya kalau suami–yang dieman-eman banget biar kalau pulang kerja bisa nyaman dan seneng pulang ke rumah–malah ngeberantakin dan ngga ada apresiasinya sama sekali.

Maybe I took it too personal, atau terlalu lebay. Tapi rasa sedih dan senengnya, kecewa dan puasnya itu kerasa banget sekarang setelah menjalani kehidupan sebagai pure ibu rumah tangga. It’s so tiring yet so exciting.

I guess, fase hidupku–yang ibaratnya dormant–sekarang ini adalah untuk introspeksi terhadap apa yang aku lalui dan rasakan. To open my eyes about my surroundings, on every little details about what goes in life. And yes, make a change.

Dan semoga untuk siapapun yang membaca tulisan ini bisa sedikit merasakan inti pesan yang aku sampaikan. Salim dan sungkem sama Ibu kalian. Jangan jahat!


4 thoughts on “I can feel it too..

  1. Iya kakkk ini bener bangeet:” kadang ibu suka sedih gt kalau aku lbh milih beli jajan daripada bawa bekal huhuhu memang yah, memasak itu pakai cinta. Menghabiskan makanan salah satu cara kecil dan mudahhh membahagiakan ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s