Masalah Klasik

Hari ini aku lumayan mobile dan produktif. Salah satunya aku mampir ke Kantor Pos di Jalan Plemburan untuk mengambil Surat Tanda Registrasi (STR) dokter umum. Sampai sana ngga kagok atau bingung karena setahun yang lalu udah pernah kesana untuk mengambil STR Internship.

Masuk ke ruangan, ambil kartu antrian, duduk di tempat yang selo. Ngga banyak orang yang di sana, tapi kursinya hampir penuh.

Sudah jam 11 siang lebih dan hari Jumat alias bakal tutup sebentar lagi kan… “Wow, nomor 21. Sekarang udah nomor berapa ya?” Pikirku sambil duduk di sebelah mas-mas yang kakinya ngga bisa diem. Tampak ada satu bapak-bapak berbaju batik sedang dilayani di loket, dengan mbak-mbak dilayani di loket sebelahnya, (yep, cuma ada dua loket) dan ngga lama mbaknya selesai.

“Nomor antrian 13” kata mbak petugasnya. What– masih jauh ternyata. Mana tempo pelayanannya juga ngga segesit yang ada di benakku. Tapi yaudahlah, aku juga ngga ada agenda mendesak lain.

Kemudian karena kurang kerjaan, aku memperhatikan sekitaran. Kanan-kiri-seberang-loket-dan semua sudut ruangan. Alhamdulillaahnya aku tu punya kemampuan untuk bisa mendengar dan mengerti percakapan orang yang jaraknya lumayan jauh dari aku (believe it or not) hahaha. Waktu aku lihat bapak-bapak di seberangku, dia lagi nunjukkin kartu antrian ke temen di sebelahnya yang juga bawa kartu antrian then he said, “Ini ngga urut ya? Saya tadi datang duluan kok mbak itu yang maju. Njenengan nomor berapa mas?”

JENG JEEEENG.

Ternyata benar, nomor antrian yang diambil masing-masing orang ternyata ngga urut alias nomornya acak. Aku nomor 21, dan antrian setelah aku dapat nomor 17 dan dia kelar duluan. WTF kan. I know. Lucunya, kejadian ini bukan kali pertama aku alami. Dulu, setahun yang lalu waktu aku ngambil STR internship, problemnya sama.

It’s so funny how they’d never changed. It has been a freaking year! OMG. Setahun itu waktu yang cukup untuk mengadakan perubahan, perbaikan, dan ada kemajuan. Ini? Stagnan. Ya I know mungkin yang mereka pikirin ngga cuma masalah antrian, tapi kalau ngga sempat mikirin, kasihin aja kerjaannya ke orang yang nganggur dan cuma WA-an ngirimin chat hoax ke orang lain. Jangan beralasan terus kalau yang diurusin banyak, ya itu risiko pekerjaan. Njenengan semua sekolah itu untuk mempermudah kehidupan, bukan malah menyalahkan kuantitas beban pekerjaan tanpa mengadakan perubahan. Pusing palaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s